FKM Unair Laksanakan Hilirisasi Komposter Dua Ruang Bersama AgroTechZyme Berkelanjutan
SURABAYA || PINTAR INDONESIA – Melalui program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) skema A Tahun 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) kembali menggalakan pengurangan sampah organik. Sekaligus, mendukung pengendalian gas rumah kaca dan penyakit berbasis sampah.
Kali ini, FKM Unair memperkenalkan inovasi alat modifikasi komposting sampah organik skala rumah tangga melalui program bertajuk “Hilirisasi Penggunaan Alat Modifikasi Komposting Sampah Organik Skala Rumah Tangga dalam Upaya Penurunan Gas Rumah Kaca dan Pengendalian Penyakit Berbasis Sampah”.
Tim FKM Unair memperkenalkan Komposter 2 Ruang bersama AgroTechZyme hasil temuan riset Prof Dr Ni Nyoman Tri Puspaningsih, M.Si (Ketua Teaching Industri Excelzyme dan Anggota grup reseacrh Proteomik, Pusat Riset Rekayasa Molekul Hayati (BIOME).
Program PMKI yang dilaksanakan di Desa Larangan, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo mulai Juni – September 2026 ini menghadirkan narasumber Agus Siswanto, S.P., M.M., Kepala Desa Larangan, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Assoc. Prof. Dr. R. Azizah, S.H., M.Kes., Host UNAIR serta Jimmy Jaya Sentosa, S.T., Tenaga Ahli Laboratorium UNAIR.
Assoc. Prof. Dr. R. Azizah, S.H., M.Kes., menyampaikan bahwa, program ini dilatarbelakangi oleh persoalan sampah organik rumah tangga yang masih menjadi tantangan lingkungan dan kesehatan. Dimana, sampah organik, khususnya sisa makanan, merupakan bagian besar dari timbulan sampah nasional.
“Ketika ditimbun dalam kondisi minim oksigen, sampah organik dapat mengalami dekomposisi anaerobik yang menghasilkan metana (CH₄), salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global,” ucap Prof. Azizah melalui rilis resminya pada Selasa, (08/09/26) di Surabaya.
Menurut Prof. Azizah, teknologi ini dirancang dengan dua ruang yang memiliki fungsi berbeda. Komposter merupakan alat atau wadah yang dirancang untuk mempercepat dan mengoptimalkan proses dekomposisi sampah organik menjadi kompos, baik dalam bentuk padat maupun cair (pupuk organik cair/POC).
Dalam kegiatan tersebut, FKM Unair berkolaborasi dengan Bank Sampah Pattuh Muammalat, Bank Sampah Anggrek, dan Gerakan PKK Desa Larangan Kecamatan Candi. Sedangkan, Unair sendiri bergerak secara tersistematis.
Kegiatan dimulai dari skala rumah tangga sampai ke TPS3R. Dimana, pada bulan Juli 2026 aksi nyata dilakukan di TPS3R sebagai post AgroTechZyme yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Kabupaten Sidoarjo. Sedangkan, bulan Agustus 2026 berlanjut di Bank Sampah Pattuh Muammalat dan Anggrek yang menjadi lokasi praktek Komposter Dua Ruang Agrotehzym Berkelanjutan. Dilanjutkan, 6 September 2026 di Pendopo Desa bersama Kepala Desa Larangan dan Ketua Tim Penggerak PKK Desa Larangan.
Kades Larangan Candi, Agus Siswanto mengapresiasi dan berterima kasih kepada pihak Unair. Pemerintah Desa mendukung penuh kegiatan Komposter Bersama UNAIR sebagai upaya pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah organik secara berkelanjutan.
“Program ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengolah sampah organik menjadi kompos padat dan kompos cair yang bermanfaat bagi lingkungan,” terang Agus.
Menurut Agus, kolaborasi antara UNAIR, Pemerintah Desa dan masyarakat dapat mengurangi sampah, mencegah pencemaran, mendukung penurunan emisi gas rumah kaca, serta mewujudkan desa yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Hal senada juga dikatakan Ketua Tim Penggerak PKK Desa Larangan, Mariyah Ulfah,S.T. menurutnya, komposter dua ruang dan AgroTechZyme berkelanjutan selaras dengan mars PKK Jagalah lingkungan dan membangun keluarga sejahtera.
“Kegiatan ini berdampak pada lingkungan bersih, komposnya untuk pupuk tanaman dilanjut menanam berbagai macam tanaman untuk ketahanan pangan keluarga,” tandas Mariyah.
Prof. Azizah juga menegaskan, keterlibatan Pemerintah Desa Larangan menjadi bagian penting dalam hilirisasi teknologi agar inovasi pengolahan sampah tidak berhenti pada pengenalan alat, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Sementara itu, keterlibatan akademisi dan tenaga ahli mendukung penerapan teknologi komposting berbasis pengetahuan dan prosedur yang tepat.
Selain persoalan lingkungan, timbunan sampah organik yang tidak dikelola juga dapat menjadi habitat bagi berbagai vektor penyakit, seperti lalat, tikus, dan nyamuk. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan.
“Karena itu, pengelolaan sampah sejak dari sumber, khususnya di tingkat rumah tangga, menjadi salah satu langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat,” ungkap Prof. Azizah.
Program PMKI Tahun 2026 yang berkaitan erat dengan lima tujuan SDGs tersebut didanai melalui Skema Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) dengan dukungan Direktorat Jenderal Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI. (*)
- Penulis : Mandala Saputra
- Foto : Istimewa
- Editor : Ronie Dwito





