SURABAYA || PINTAR INDONESIA – Cita Hati Citraland Campus terus tunjukan konsistennya dalam memberikan ruang bagi siswa siswi untuk belajar menghadapi persoalan secara langsung yang dikemas melalui diskusi dan diplomasi.
Melalui program edukasi berkonsep Model United Nations (MUN), Cita Hati Citraland Campus mengajak siswa belajar menyelesaikan persoalan secara langsung,
Menariknya, forum simulasi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang diadakan pada Sabtu, (22/08/26) di Cita Hati Citraland Campus ini diikuti 55 pelajar lintas sekolah di Jawa Timur untuk berperan sebagai diplomat.
Kepala Sekolah Cita Hati Citraland Campus, Robin Simon, menyampaikan bahwa, melalui program MUN, siswa tidak hanya belajar menyampaikan pendapat, tetapi juga belajar mendengarkan sudut pandang yang berbeda, melakukan negosiasi, dan mencari solusi yang dapat diterima bersama.
“Kami sangat bersyukur program ini disambut antusias tidak hanya siswa Cita Hati Citraland Campus saja namun juga puluhan pelajar lintas sekolah dari beberapa kota di Jawa Timur,” ujar Robin, Sabtu, (22/08/26).
Dalam forum simulasi PBB yang diikuti pelajar dari sekolah Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, hingga Purwokerto ini, tidak hanya berdebat mengenai isu global, tetapi juga melakukan negosiasi dan menyusun solusi bersama melalui jalur diplomasi.
Ditempat yang sama, Kezia Graciana Liem (15), Secretary-General sekaligus siswa Cita Hati Citraland Campus kelas 10D yang terlibat dalam penyelenggaraan MUN menambahkan, forum MUN ini menjadi ruang bagi siswa tidak hanya menunjukkan kemampuan berbicara dan berargumentasi, tetapi juga belajar bagaimana bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki perspektif berbeda.
“Sebagai panitia, kami juga banyak belajar dari proses mempersiapkan konferensi ini, mulai dari menyusun agenda hingga memastikan persidangan dapat berjalan dengan baik,” terang Kezia bangga.
Sedangkan, Yuditha Putri, M.Pd selaku Supervisor Acara MUN sekaligus English Teacher Cita Hati Citraland Campus menjelaskan, melalui program berkonsep MUN ini bisa menjadi pengalaman belajar yang sangat relevan dengan dunia nyata bagi para siswa.
“Bagi para peserta, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk berinteraksi dan berkolaborasi dengan pelajar dari sekolah lain dalam suasana persidangan internasional,” tandas Yuditha.
Menurut Yiditha, keberagaman sekolah juga terlihat dalam jajaran Chairs atau pimpinan sidang yang terdiri dari enam siswa dari Cita Hati Citraland Campus, Sekolah Cikal, SMA Katolik St. Louis 1, Singapore National Academy (SNA), dan Sekolah Ciputra.
Selama persidangan, para peserta mengambil peran sebagai perwakilan negara dan membahas berbagai persoalan internasional. Mereka dituntut untuk memahami posisi negara yang diwakili, menyampaikan argumen dalam debat formal, bernegosiasi dengan delegasi lain, hingga menyusun draft resolution sebagai bentuk kesepakatan bersama.
Berbeda dengan kompetisi debat yang berfokus pada memenangkan argumen, MUN menempatkan peserta pada situasi yang menuntut mereka mencari titik temu dengan pihak lain. Kemampuan untuk mempertahankan kepentingan negara yang diwakili sekaligus membangun koalisi menjadi bagian penting dari jalannya persidangan.
Sebagai bagian dari pembelajaran di Cita Hati Citraland Campus, kegiatan ini juga selaras dengan pendekatan International Baccalaureate (IB) yang mendorong siswa untuk berpikir kritis, terbuka terhadap perspektif berbeda, serta mampu menghubungkan pembelajaran dengan persoalan dunia nyata.
Melalui MUN, Cita Hati Citraland Campus menghadirkan forum yang mempertemukan pelajar lintas sekolah dan daerah dalam satu ruang untuk berdiskusi, bernegosiasi, dan mencari solusi atas isu-isu global melalui pendekatan diplomasi. (*)
- Penulis : Mandala Saputra
- Foto : Mandala
- Editor : Ronie Dwito





