SURABAYA || PINTAR INDONESIA – Sebagai bentuk tanggung jawab sosial terhadap masyarakat, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).
Kali ini, mengusung konsep “Literasi Kebencanaan Berbasis Keluarga: Edukasi Kesiapsiagaan Bencana kepada Ibu PKK Manukan Kulon”, tim Dosen FBS UNESA mengajak para Ibu ibu PKK Manukan Kulon tanggap akan berbagai bencana.
Tim Dosen FBS UNESA sendiri terdiri atas Silvy Cinthia Adelia, S.S., M.A.; Lisetyo Ariyanti, S.S., M.Pd.; Dr. Dian Rivia Himmawati, S.S., M.Hum.; Kenya Permata Kusumadewi, S.S., M.Pd.; Audrey Gabriella Titaley, S.Pd., M.Hum.; dan Dr. Ririn Pusparini, S.Pd., M.Pd.
Ketua Tim PKM, Silvy Cinthia Adelia, S.S., M.A menjelaskan bahwa, perempuan memiliki peran strategis dalam pengelolaan keluarga. Termasuk, dalam menyusun perencanaan, mengambil keputusan, memastikan keselamatan anggota keluarga, serta membangun kebiasaan tanggap terhadap berbagai risiko bencana.
“Dalam kegiatan mitigasi bencana yang dilaksanakan pada 12 Agustus kemarin di Balai RW 02, Kelurahan Manukan Kulon, Kecamatan Tandes, Surabaya, kami melibatkan ibu-ibu PKK sebagai peserta untuk menjadi bagian penting dari pendekatan literasi kebencanaan berbasis keluarga,” ujar Silvy, Kamis, (13/08/26).
Melalui kegiatan ini, lanjut Silvy, tim PKM FBS UNESA berupaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana melalui penguatan literasi, mitigasi bencana, kesiapsiagaan, dan perencanaan.
Menurut Silvy, literasi kebencanaan tidak hanya dipahami sebagai kemampuan mengenali jenis dan risiko bencana, tetapi juga sebagai kemampuan menerapkan pengetahuan tersebut dalam tindakan nyata sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.
Sedangkan, untuk materi utama disampaikan oleh narasumber dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya. Dimana, peserta mendapatkan pemahaman mengenai berbagai jenis bencana yang dapat terjadi di Indonesia, potensi risiko di lingkungan perkotaan, serta langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menghadapi situasi darurat.
Selain penyampaian materi, kegiatan dikemas secara interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta diberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman, mengidentifikasi potensi risiko di lingkungan tempat tinggal, serta mendiskusikan langkah-langkah kesiapsiagaan yang dapat diterapkan bersama keluarga.
Salah satu aktivitas yang menarik perhatian peserta adalah kegiatan kelompok berupa pembuatan Tas Siaga Bencana. Peserta diajak mengenali berbagai kebutuhan penting yang perlu disiapkan untuk menghadapi kondisi darurat.
Aktivitas tersebut dirancang agar praktis, aplikatif, dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kesiapsiagaan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi diwujudkan dalam bentuk perencanaan dan tindakan konkret di tingkat keluarga.
“Melalui kegiatan tersebut, FBS UNESA menegaskan peran perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Edukasi kebencanaan yang melibatkan ibu-ibu PKK tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas keluarga sebagai unit terkecil masyarakat dalam melakukan mitigasi, kesiapsiagaan, dan perencanaan menghadapi bencana.
“Keluarga yang memiliki literasi kebencanaan yang baik diharapkan tidak hanya mampu merespons bencana secara lebih cepat dan tepat, tetapi juga turut membangun lingkungan Manukan Kulon yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan,” ungkap Silvy.
Perlu diketahui, kegiatan tersebut memiliki relevansi dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11: Sustainable Cities and Communities yang menekankan pentingnya menciptakan kota dan komunitas yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. Serta, penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana merupakan salah satu bagian penting dalam membangun komunitas yang tangguh terhadap berbagai ancaman dan risiko.
Selain itu, pelaksanaan PKM ini juga mendukung SDG 17: Partnerships for the Goals melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, BPBD, serta masyarakat. Sinergi tersebut menunjukkan bahwa upaya membangun ketangguhan masyarakat terhadap bencana membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dan tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. (*)
- Penulis : Mandala Saputra
- Foto : Istimewa
- Editor : Ronie Dwito





